Kiat-kiat Mendapatkan Artikel Ilmiah
Majalah ilmiah berakreditasi bersumber baik dari internal dan eksternal. Artinya, artikel sebuah majalah ilmiah tidak boleh hanya berasal dari dalam saja, melainkan juga dari luar. Sekitar 60% sumber internal dan 40% sumber external merupakan yang ideal, tetapi variasinya juga bisa berguna, asalkan tetap sesuai dengan kaidah akreditasi.
Mengingat sulitnya mendapatkan naskah, maka diperlukan kerjasama dengan berbagai sumber, seperti dengan ketua jurusan yang sebidang ilmu dengan jurnal yang diterbitkan.
Kualitas tulisan harus dilihat secara obyektif, tidak dilihat dari level kesarjanaannya. Meskipun baru S1, kualitas artikelnya bisa lebih bagus dari yang bergelar lebih tinggi seperti S2. Yang menentukan bukan gelar, tetapi kualitas penulisan.
Yang terpenting adalah menerbitkan penulisan yang original. Standard originalitas harus ditetapkan guna memastikan kualitas dari jurnal ilmiah.
Bagaimana mendetek originalitas? Salah satu cara adalah menetapkan gaya selingkung yang rigid, sistem ini akan menyaring penulis untuk hanya menulis sesuai dengan standar yang ditetapkan dan menyaring tulisan-tulisan yang tidak original.
Perguruan tinggi yang besar memiliki kecenderungan jumlah jam dosen sedikit, agar mereka memiliki waktu dan kesempatan untuk menulis. Sedangkan yang kecil, cenderung memiliki banyak jumlah jam mengajar, sehingga sangat sedikit kesempatan untuk menulis.
Petunjuk penulisan sebaiknya jelas, agar artikel-artikel yang masuk sesuai dengan gaya selingkung yang diharapkan.
Dosen-dosen mungkin juga perlu mendapakan pelatihan tentang strategi penulisan. Biasanya peserta tidak banyak, tetapi dosen yang ingin belajar juga perlu diberi motivasi.
Kapan terbit dan lewat apa pengiriman artikel harus juga dijelaskan, secara umum adalah lewat email, bisa juga menerima hardcopy, tetapi harus tetap dilampiri soft copy.
Tekankan para originalitas, karena ini bisa meningkatkan kualitas dari jurnal ilmiah. Semakin tinggi tingkat originalitas penulisan, semakin tinggi kualitas jurnal ilmiah.
Hampir semua ilmu hanya menambah sedikit saja dari sumber yang ada, itulah sebabnya source harus disebutkan, yaitu dengan mencantumkan daftar pustaka. Sumber rujukan harus muncul, karena ini menunjukan tingkat kejujuran dalam disiplin akademik.
Dalam hal ini, yang terpenting adalah hati nurani dari masing-masing penulis, yang harus berusaha untuk menulis dengan tingkat originalitas yang tinggi.
Pembaca perlu diikat dengan materi jurnal ilmiah, dengan mengundang pengarah terkenal untuk menulis untuk jurnal ilmiah. Ini merupakan investasi dalam jurnal ilmiah itu.
Dosen yang bagus adalah dosen yang mampu mengajar dengan jelas, dan selalu diingat oleh mahasiswanya. Ini berkaitan dengan cara berpikir. Demikian juga dengan tulisan, tulisan yang bagus memberikan kesan pada pikiran pembacanya yang sulit untuk dilupakan.
Di awal penerbitan jurnal ilmiah tidak harus bagus dahulu, tetapi komitmen untuk mulai menerbitkan jurnal ilmiah, komitmen ini sangat penting. Setelah terbentuk, ISSN segera diminta, dan setelah sekitar 6 kali penerbitan bisa meminta untuk diakreditasi. Proses untuk mendapatkan akreditasi jurnal ilmiah ini harus berlanjut sampai berhasil.
Jika ternyata sulit mendapatkan penulis, maka dewan redaksi bisa menjadi penulis, dan wajib menulis demi eksistensi dari jurnal ilmiah tersebut.
Yang terpenting adalah, setelah sebuah karya ilmiah masuk ke redaksi, harus direview minimal oleh 2 mitra bestari. Jika 2 mitra bestari ini mengatakan substansi ia dan tidak, atau lolos dan tidak lolos, maka selanjutnya adalah tugas penyuting untuk memastikan bahwa penulisan sesuai dengan gaya selingkung. Jika secara substansi ditolak oleh mitra bestari, maka tulisan itu harus dikembalikan ke penulisnya.
Langkah kerja terbaik adalah dilakukannya kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi untuk menulis jurnal yang spesifik. Jika dikerjakan secara bersama, maka akan mudah dilaksanakan.
Isi (RSS)