Custom Search

Pengelolaan Majalah Ilmiah

Pengelolaan majalah ilmiah merupakan tuntutan untuk memenuhi tujuan tertentu, pengumpulan kredit poin untuk peningkatan jabatan fungsional. Masalahlah adalah, bagaimana menerbitkan majalah ilmiah? Menerbitkan majalah ilmiah bukan perkara yang mudah. Majalah ilmiah harus berbobot, agar tidak terjadi proses pembodohan. Artinya, isi dari majalah ilmiah harus dapat dipertanggungjawabkan secara akadamik.

Kebijakan Dasar Pengelolaan Majalah Ilmiah:

1. Meningkatkan Daya Saing Bangsa

Kontribusi dan jasa pendidikan tinggi diharapkan memasuki pasar dunia. Artinya, harus ada sesuatu yang bisa diproduksi dan dipasarkan dan di ekspor. Siapa yang menjadi pilar daya saing bangsa? Para insan perguruan tinggi harus mampu memberikan sumbangan berharga karena kemampuan intelektualnya. Para dosen harus kreatif dalam menelorkan ide-ide, berkarya, berkolaborasi, dan mampu menghasilkan karya-karya besar. Contohnya, bagaimana menghasilkan telor yang rendah kolesterolnya.

Apakah para dosen memiliki karya yang bisa dijual, dikomersialkan, mampu menghasilkan karya berbobot untuk konsumsi tingkat dunia. Dosen yang tidak kreatif akan memiliki lebih banyak penghasilan dari hasil-hasil karya ilmiahnya, dibandingkan dengan dosen-dosen yang tidak kreatif. Jadi, yang utama, para dosen harus memiliki daya saing. Jika dosen memiliki daya saing, maka perguruan tingginya juga memiliki daya saing. Jika perguruan tingginya memiliki daya saing, maka secara akumulatif Indonesia juga daya saing.

2. Otonomi.

Pendekatan terbaik untuk pengelolaan sistem pendidikan tinggi yang kompleks. Artinya, para dosen memiliki otonomi untuk berkarya secara kreatif.

3. Kesehatan Organisasi.

Para dosen diberi otonomi agar mampu berkarya. Lembaga pendidikan harus sehat dan bisa memanage para dosen dengan baik. Tetapi jika manajemen perguruan tinggi buruk, maka dosennya juga mengalami degradasi.

Faktanya adalah, Indonesia sudah mengalami banyak degradasi. Indonesia sudah menjadi negara yang gersang, sudah tidak kaya karena kekayaan alam sudah dihisap oleh investor-investor asing. Saat ini, di banyak daerah di Indonesia air bahkan sulit dicari. Air menjadi komoditas yang mahal. Ternyata Indonesia sudah tidak sesubur seperti yang banyak digembar-gemborkan pada jaman dahulu. Banyak hutan yang sudah gundul, keanegaragaman alam hayati sudah hancur karena penebangan hutan secara membabi buta.

Jadi, para dosen harus kreatif agar Indonesia mampu mengekspor. Penduduk Jawa Tengah misalnya, sudah mencapai 35 juta jiwa, merupakan potensi besar. Artinya, dosen harus mampu melihat jumlah penduduk ini sebagai masalah, sekaligus potensi. Akan banyak masalah dari terlalu banyaknya jumlah penduduk, dan para dosen harus mampu menemukan solusinya.

Para dosen harus mampu menerbitkan karya ilmiah bukan hanya dalam skala laboratorium saja, tetapi juga dalam skala produksi. Artinya, para dosen harus mampu menghasilkan sesuatu sesuai dengan kebutuhan para konsumen. Kemudian, berbagai pemahaman tentang konsumen ini harus bisa ditransfer menjadi produk yang bisa diserap oleh konsumen.

Jika tulisan itu berhubungan dekat dengan kebutuhan konsumen, maka banyak orang yang akan membaca, dan banyak pula yang akan merujuk, sehingga hasil karya dosen itu menjadi komoditas yang diserap pasar. Dengan demikian maka publikasi perguruan tinggi akan hidup.

Dosen Sebagai Tenaga Profesional

Dosen merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi yang tugas utamanya adalah meningkatkan martabat dan peran dosen sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan untuk mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Dosen merupakan sumber daya Perguruan Tinggi yang mampu mengembangkan suasana akademik yang kondusif, melalui karya-karya yang kreatif, inovatif, dan kompetitif.

Apa yang dilakukan oleh para dosen harus relevan dengan kebutuhan masyarakat, dengan demikian fungsi pengabdian masyarakat di perguruan tinggi sesuai dengan kekinian, atau tidak ketinggalan jaman.

Harus Ada Relevansi

Apa kebutuhan masyarakat harus dipahami, kemudian apa yang dilakukan oleh para dosen dalam menulis karya ilmiah ini harus merupakan usaha untuk memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Program Keunggulan dan Keunikan

Mimpi. Dosen harus memiliki pandangan ke depan. Apa yang mampu dihasilkan oleh dosen 5 tahun yang akan datang? Dosen harus memiliki keunggulan dan keunikan lokal atau nasional yang dikembangkan menjadi keunggulan global.

Diharapkan dengan program unggulan akan muncul kreativitas, inovasi berupa penemuan-penemuan dari para dosen dan mahasiswa sebagai aktualisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program unggulan tersebut merupakan kompetensi dosen atau perguruan tinggi.

Berpikir Praktis dan Realistis

Jadi, hasil karya ilmiah yang dihasilikan oleh dosen harus bersifat praktis dan realistis, sehingga tidak terjadi kesia-siaan.

Bagian Dari Glabalisasi

Diharapkan bahwa karya ilmiah dosen diserap oleh pasar global, karena memiliki keunggulan yang bisa diserap oleh dunia.

Pengembangan Kompetensi Dosen

Setiap Dosen dalam mengembangkan kompetensi harus memiliki:

* Lahan bidang studi (bidang kepakaran/kompetensi).
* Lahan Objek/sasaran.
* Lahan teori, tools (berkolaborasi dengan dosen lain).

Kompetensi Inti Dosen

Kompetensi inti adalah keunggulan unik yang dimiliki oleh para dosen, yang secara terakumulasi menjadi keunikan dari perguruan tinggi tersebut. Pemahaman seperti ini merupakan pemahaman yang bisa mentransformasi perguruan tinggi.

Terus Menerus Belajar Mengembangkan dan Mencari Pengalaman

Para dosen harus menjadi manusia pembelajar yang terus mengembangkan diri dan belajar dari setiap pengalaman yang berharga.

INHERENT (Indonesia Higher Education Network)

Pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang kegiatan akademik guna mengelola publikasi ilmiah (e-learning, diseminasi knowledge, sharing informasi via digital library, video conference dll).

Perlu Forum Penerbitan Majalah Ilmiah

Dengan forum penerbitan majalah ilmiah, maka bisa diciptakan sistem untuk saling menunjang dalam menerbitkan karya-karya ilmiah. Sehingga, menciptakan raksasa digital bukan merupakan suatu mimpi. Idenya adalah memiliki perpustakaan digital raksasa yang bisa diakses secara LAN.

Memberi Balasan

Anda harus ter-login untuk memposting sebuah komentar. Login »